Mengenal Lebih Dekat Dengan Asal Mula SDGs Desa

Mengenal Lebih Dekat Dengan Asal Mula SDGs Desa

Jumat, 19 Maret 2021, Maret 19, 2021

                                                     (Sumber Fhoto; desapedia.id)

Selamat datang di blog www.jejakuntung.com, salam berdesa untuk anda semuannya. Sahabat desa yang saya banggakan, seiring dengan terbitnya Peraturan Menteri Desa No 13 tahun 2020. Tentang prioritas penggunaan Dana Desa untuk tahun 2021.

SDGs Desa Rupanya menjadi jawaban Gus Menteri Desa Abdul Halim Iskandar atas keresahan Bapak Presiden yang menyebutkan bahwa Dana Desa belum benar benar di rasakan oleh masyarakat Desa secara menyeluruh terutama untuk golongan terbawah.

Terlebih lagi dengan adanya wabah covid 19 maka keberadaan Dana Desa benar-benar menjadi benteng terakhir untuk menangkal penyebaran virus yang mematikan tersebut khususnya di level Desa. Maka untuk tahun tahun mendatang Dana Desa harus lebih terarah dan focus pada hal hal yang benar benar di butuhkan oleh masyarakat Desa.

Pada kesempatan ini saya ingin mengajak anda semua untuk lebih mengenali lagi apa itu yang di sebut dengan SDGs Desa. Terkait istilah SDGS mungkin sebagian dari kita sudah mengenal terlebih dahulu.  Dimana SDGS merupakan akronim dari Sustainable Development Goals yang dalam bahasa kita di kenal dengan Pembangunan Berkelanjutan

SDGS sendiri bermula dari adanya Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke 70 pada bulan September 2015 di New York, Amerika Serikat, menjadi titik sejarah baru dalam pembangunan global. 

Sebanyak 193 kepala negara dan pemerintahan dunia hadir untuk menyepakati agenda pembangunan universal baru yang tertuang dalam dokumen berjudul Transforming Our World: the 2030 Agenda for Sustainable Development—berisi 17 Tujuan dan 169 Sasaran yang berlaku mulai tahun 2016 hingga tahun 2030. Dokumen ini dikenal dengan istilah Sustainable Development Goals atau SDGs.

SDGs merupakan kelanjutan Millennium Development Goals (MDGs) yang disepakati oleh negara anggota PBB pada tahun 2000 dan berakhir pada akhir tahun 2015. MDGs yang disepakati lebih dari 20 tahun lalu hanya berisi 8 Tujuan, 21 Sasaran, dan 60 Indikator.      

Sasarannya hanya bertujuan mengurangi separuh dari tiap-tiap masalah pembangunan yang tertuang dalam tujuan dan sasaran. SDGs mengakomodasi masalah-masalah pembangunan secara lebih komprehensif baik kualitatif maupun kuantitatif menargetkan penyelesaian tuntas terhadap setiap tujuan dan sasaranya.   

SDGs juga bersifat universal memberikan peran yang seimbang kepada seluruh negara—baik negara maju, negara berkembang, dan negara kurang berkembang—untuk berkontribusi penuh terhadap pembangunan, sehingga masing-masing negara memiliki peran dan tanggung jawab yang sama antara satu dengan yang lain dalam mencapai SDGs.

Dari ke 17 sasaran yang tertera pada SDGS maka khususnya di Indonesia, Kementerian Desa melengkapinya dengan sasaran yang ke 18 yakni kelembagaan desa yang dinamis dan berbudaya desa adaptif. Sehingga yang membedakan SDGS dengan SDGs Desa adalah jumlah sasaran yang telah disesuaikan dengan kondisi kearifal lokal di Desa.

 Seperti yang tercantum di Permendesa no 13 tahun 2020, bahwa SDGs Desa adalah upaya terpadu mewujudkan Desa tanpa kemiskinan dan kelaparan, Desa ekonomi tumbuh merata, Desa peduli kesehatan, Desa peduli lingkungan, Desa peduli pendidikan, Desa ramah perempuan, Desa berjejaring, dan Desa tanggap budaya untuk percepatan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Bermula dari arahan Bapak Presiden Indonesia pada tanggal 22 OKtober 2019, bahwa Pertama, Dana Desa harus di rasakan oleh seluruh warga Desa, terutama warga golongan terbawah. Dan yang Kedua, Dampak pembangunan Desa harus lebih di rasakan melalui pembangunan Desa yang lebih terfokus.

Kedua hal tersebut tentunya harus sejalan dengan Undang Undang Desa no 6 tahun 2014. Terutama dalam hal yang terdiri dari 3 (tiga) aspek, yakni; 1. Norma Pembangunan Desa, 2. Tujuan Pembangunan Desa. 3. Metode Pembangunan Desa.

Selanjutnya dari ketiga aspek tersebut, maka di breakdown lagi menjadi uraian seperti berikut:

1.       Norma Pembangunan Desa; Kebersamaan, Kekeluargaan, Keadilan Sosial, Pengarusutamaan Perdamaian, dan Kegotongroyongan.

2.       Tujuan Pembangunan Desa; Penanggulangan Kemiskinan, Kesejahteraan, Kualitas Hidup Manusia.

3.       Metode Pembangunan Desa; Pemenuhan kebutuhan dasar, pembangunan sarana dan prasarana, pengembangan potensi ekonomi local, serta pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan secara berkelanjutan.

Lebih jelasnya lagi, Undang-Undang Desa memandatkan bahwa tujuan pembangunan Desa adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa dan kualitas hidup manusia serta penanggulangan kemiskinan melalui pemenuhan kebutuhan dasar, pembangunan sarana dan prasarana Desa, pengembangan potensi ekonomi lokal, serta pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan secara berkelanjutan.

 Yang dimaksud dengan berkelanjutan adalah pembangunan Desa untuk pemenuhan kebutuhan saat ini dilakukan tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi Desa di masa depan.

 Untuk mengoperasionalkan tujuan pembangunan Desa yang dimandatkan oleh Undang-Undang Desa,maka penggunaan Dana Desa diprioritaskan untuk mewujudkan 8 (delapan) tipologi Desa dan 18(delapan belas)tujuan SDGs Desa sebagai berikut:

 

1.   Tipe Desa tanpa kemiskinan dan kelaparan

SDGs Desa 1: Desa tanpa kemiskinan; dan 

SDGs Desa 2: Desa tanpa kelaparan.

 

2.  Tipe Desa ekonomi tumbuh merata

SDGs Desa 8: pertumbuhan ekonomi Desa merata;

SDGs Desa 9: infrastruktur dan inovasi Desa sesuai kebutuhan;

SDGs Desa10: desa tanpa kesenjangan; dan

SDGs Desa12: konsumsi dan produksi Desa sadar lingkungan.

 

3.  Tipe Desa peduli kesehatan

SDGs Desa 3:Desa sehat dan sejahtera;

SDGs Desa 6: Desa layak air bersih dan sanitasi; dan

SDGs Desa 11: kawasan permukiman Desa aman dan nyaman.

 

4.   Tipe Desa peduli lingkungan

SDGs Desa 7: Desa berenergi bersih dan terbarukan;

SDGs Desa 13: Desa tanggap perubahan iklim;

SDGs Desa 14: Desa peduli lingkungan laut; dan

SDGs Desa 15: Desa peduli lingkungan dara

 

5.   Tipe Desa peduli pendidikan

SDGs Desa 4: pendidikan Desa berkualitas.

 

6.   Tipe Desa ramah perempuan

SDGs Desa 5:keterlibatan perempuan Desa.

 

7.   Tipe Desa berjejaring

SDGs Desa 17: kemitraan untuk pembangunan Desa.

 

8.   Tipe Desa tanggap budaya

SDGs Desa 16: Desa damai berkeadilan; dan

SDGs Desa 18: kelembagaan desa dinamis dan budaya desa adaptif.

                  

            Demikian lah penjelasan singkat terkait latar belakang adanya SDGs Desa. Semoga dengan adanya SDGs Desa ini maka upaya membangun Indonesia dari pinggiran benar benar segera terwujud seperti yang kita harapkan. Sebagaimana visi misi Undang Undang Desa yakni mewujudkan Desa yang Maju Mandiri Sejahtera Berkeadilan dan Demokratis.

            Nantikan artikel selanjutnya, terkait perkembangan SDGs Desa maupun gaya hidup penulis sebagai orang desa hanya di blog www.jejakuntung.com.

 

 


 

TerPopuler