Honor Menulis Habis untuk Membayar Tilang

Honor Menulis Habis untuk Membayar Tilang

Kamis, 24 September 2020, September 24, 2020

                                                     Sumber Foto : Tribunnews.com

Kejadian ini terjadi di bulan April tahun 2006. Buat saya ini merupakan pengalaman yang unik sekaligus menggelikan buat saya sendiri. Bagaimana tidak, honor yang di nanti-nanti dari hasil menulis artikel di Surat Kabar Lokal SK PRIANGAN waktu itu yang sekarang telah berganti nama menjadi KABAR PRIANGAN. 


Terpaksa harus di habiskan untuk bayar tilang. Uang hasil honor tersebut, harusnya bisa dinikmati untuk bekal harian sebagai anak kos yang nilai Rp. 50.000 waktu itu bisa di pakai buat seminggu. Untuk pasaran Ciamis saat itu, uang segitu masih bisa buat beli makan beberapa hari yah. Sebab masih ada makan yang se porsi harganya Rp. 3000-4000 an. Sedangkan harga bensin saat itu masih di kisaran Rp. 2400. 

Awal cerita salah satu tulisan saya berhasil terbit di Rubrik OPINI di SK PRIANGAN tanggal 16 April 2006 saat itu. Betapa girangnya saya, pada zaman itu mungkin hanya saya mahasiswa di kampus saya yang sudah beberapa kali karya tulisnya masuk di koran meski hanya koran daerah. Kalau di hitung mungkin itu adalah tulisan saya yang ke 3. 


Pada suatu hari, lebih tepatnya di akhir bulan sekitar tanggal 25-26 April 2006. Sebagai mahasiswa kos, saya kehabisan bekal. Uang yang tersisa di saku tinggal 5000 rupaiah. Sebenarnya uang segitu cukup untuk ongkos pulang ke rumah. Sebab waktu itu ongkos bus dari Ciamis ke Majenang, salah satu kecamatan di Cilacap bagian barat. Dengan tarif mahasiswa sekitar Rp 3000, seharusnya saya pulang dan istirahat di rumah. Namun saya berfikir waktu itu, dari pada pulang sekedar minta ongkos lalu besoknya berangkat lagi. 

Akhirnya, saya memilih untuk mengambil honor menulis ke Kota Sebelah yakni Kota Tasikmalaya tempat dimana kantor Redaksi SK PRIANGAN berada. Sebelum berangkat ke Tasikmalaya terlebih dulu saya meminjam uang ke salah satu teman yang kebetulan sama-sama aktif di organisasi PMII waktu itu. Singkat cerita, dapatlah saya pinjaman sebesar Rp. 50 000, sebagai pegangan kalau ada kendala di perjalanan ke Tasik tersebut. Bayangan saya, kendala yang paling mungkin terjadi adalah ban bocor atau motor mogok. Sebab motor saya waktu itu adalah Motor Clasik Astrea 800 yang umur motornya lebih tua dari umur saya. 

 Uang yang Rp 5000 saya gunakan untuk beli bensin Rp 2500 dan untuk makan siang saya habiskan sisanya cukup dengan makan kupat dan gorengan. Hmm miris yah… Mungkin itu Bahasa yang tepat buat anak sekarang…. Semoga tulisan ini suatu saat nanti bisa di baca oleh para mahasiswa, bahwa hidup itu perih sultan…ha ha Ketika pinjam di pagi hari, saya janji akan mengembalikannya nanti sore. Saya pun memberikan penjelasan bahwa saya akan ke Tasik untuk mengambil honor menulis tersebut. Jadi uang pinjaman tersebut sebenarnya hanya lah untuk jaga jaga saja. 

 Sekitar pukul 11.00 WIB, saya meluncur menuju Kota Tasikmalaya. Matahari sudah mulai meninggi, rasa panas pun sudah membakar sekujur tubuh saya. Sekitar 30 menit kemudian sampailah di lampu merah perempatan Jogya Mitra Batik. Lampu lalu lintas menunjukan warna merah, ya semua orang tahu bahwa warna merah adalah tanda nya untuk berhenti. Saya pun ikut berhenti, meskipun saya belum mempunyai SIM waktu itu. Tapi saya merasa yakin selama tidak ada Razia resmi dan saya menggunakan helm, maka peluang untuk kena tilang sangatlah kecil kemungkinannya. 

Ketika saya menunggu lampu merah menjadi hijau, tiba -tiba saya kaget di hampiri oleh Bapak Polisi Lalu Lintas yang kebetulan berjaga di Pos di sisi kiri perempatan tersebut. “ Selamat siang, bisa kepinggir dulu merapat ke Pos POLISI. “Siang pa, ya ok” sambut saya. Waktu itu saya bingung, kenapa saya di minta minggir. Awalnya belum ngeh, setelah di jelaskan ternyata saya salah posisi berehenti. Seharusnya ruas paling kiri adalah untuk pengguna yang akan belok kiri langsung. Sedangkan yang mau l urus harus lebih ke tengah.

 “ Bisa tunjukin surat suratnya!” begitu pak polisi kembali menyapa. Deg secara reflek saya langsung, berguman di hati hmmm…”apes deh”. Intinya saya di tilang karena tidak bias menunjukan SIM. Karena ini adalah pengalaman pertama di tilang di luar kota. Ya sontaklah waktu saya pasrah. Saya di tawari mau sidang di tempat atau sidang di pengadilan. Hmmm….dari pada harus kembali ke Tasik akhirnya saya nyerah deh…di tilang di tempat. Sekarang sih baru ngeh kalau hal seperti baiknya sidang aja ke Pengadilan. Jadi lumayan uang yang di pegang bisa di gunakan untuk kebutuhan waktu dekat. 

Dengan terpaksa uang pinjaman yang Rp. 50 000 di gunakan untuk bayar tilang. Tapi sedikit nego waktu itu bayar tilangnya akhirnya menjadi Rp. 40 000. Karena saya juga menjelaskan bahwa tujuan ke tasik adalah untuk mengambil honor yang jumlahnya Rp 50.000. Jika uang itu di serahkan semua ya sama saja saya gagal total. Setelah proses pembayaran selesai, saya melanjutkan perjalanan menuju Kantor SK PRIANGAN yang waktu itu masih di jalan Dindingari Raya Perum Panglayungan Tasikmalaya. Akhirnya tiba juga di kantor SK PRIANGAN. 


Perjuangan saya belum selesai sampai disitu. Ketika bertemu dengan karyawan di kantor Redaksi, saya langsung menyampaikan maksud dan tujuan saya datang ke kantor tersebut. Bukannya langsung proses pencairan rupannya, tak di sangka ternyata saya mis komunikasi dan terancam pulang dengan tangan hampa. Lebih jelasnya, info yang saya dapat waktu itu bahwa pencairan honor untuk tulisan yang di muat di bulan April baru bisa di ambil di awal bulan berikutnya. Hah …. Saya pun kaget sempat putus asa dan hamper pulang tanpa hasil. Sebelum memutuskan pulang saya teringat ada rektur yang saya kenal beliau adalah Kang Dudy RS. Orang yang di bisa di bilang sudah membimbing saya hingga bisa menulis artikel dan berita dari beberapa kegiatan pelatihan jurnalistik yang di selenggarakan oleh SK PRIANGAN. 


Akhirnya saya coba telepon beliau dan beliau pun menyampaikan jawaban yang sama seperti jawaban orang yang saya temui di kantor redaksi, bahwa honor baru bisa di ambil bulan depan. Tak lama saya merenung sejenak, dan akhirnya saya tekadkan apapun caranya saya harus bisa membawa pulang honor itu, untuk bisa di gunakan membayar pinjaman saya yang saya sudah terlanjur janji akan di bayar nanti sore. Akhirnya saya telpon lagi kang Dudy, saat menelpon yang kedua ini saya sekalian curhat soal saya di tilang. Dengan segala permohonan, akhirnya beliau mengabulkan keinginan saya. Tak lama kemudian beliau mengirim sms yang isinya bahwa saya diminta menemui sekretaris redaksi. Dan berkat loby ini inilah akhirnya saya bisa pulang dengan membawa honor tersebut. 


Setelah pulang akhirnya saya nego juga ke teman saya, untuk bisa menunda pembayaran pinjaman minggu depan. Demikian lah pengalaman yang penuh dengan kekonyolan dan sedikit mengenaskan. Jika sahabat ada yang pernah mengalami hal yang serupa silahkan bias share di kolom komentar yah. Trima kasih sudah menyempatkan baca artikel ini semoga hari hari kedepan kita lebih beruntung lagi.

TerPopuler